15/08/08

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Jumat, 15-Agustus-2008; Oleh : Agus Riyanto.
Tak terasa sudah 63 tahun negara kita, Indonesia tercinta, telah merdeka. Tak terasa 63 tahun sudah kita hidup di alam yang merdeka, menghirup udara kebebasan dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan dan membodohkan bangsa kita. Teringat masa-masa dan penderitaan bangsa ini ketika dijajah selama kurang lebih 3,5 abad; sekarang kita benar-benar harus bersyukur dan mengisi kemerdekaan ini dengan karya dan prestasi terbaik.Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini bukannya didapat dengan mudah, melainkan dengan cucuran darah dan pengorbanan jiwa-raga para pejuang kusuma bangsa. Mereka berjuang tak kenal lelah, pantang menyerah, dengan nyawa menjadi taruhannya demi kemerdekaan negeri ini. Kita pasti pernah mendengar betapa dahsyatnya perjuangan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu, Pangeran Antasari, Sultang Agung, Sultan Hasanuddin, Panglima Polim, Sisinga Mangaraja, dan lain-lain yang berjuang hingga titik darah penghabisan mengusir penjajah dari daerahnya masing-masing. Dengan perjuangan mereka--para pahlawan yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya-dari generasi ke generasi maka akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bertempat di kediaman Ir. Sukarno, di Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta tepat pada pukul 10.30 waktu Jawa (sama dengan pukul 10.00 WIB sekarang) Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.Kita juga selalu terkenang betapa hebatnya jiwa nasionalisme dan patriotisme para pejuang kemerdekaan dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri ini, karena kemerdekaan yang baru diproklamasikan bukannya tanpa tantangan, tapi justru mendapat ujian yang tak kalah dahsyat sebagaimana proses kemerdekaan itu diraih.Kita pasti ingat perjuangan Jenderal Sudirman (lahir: 24 Januari 1916; wafat: 29 Januari 1950) yang tak kenal lelah untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara tercinta. Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta, Belanda ternyata masih ingin menjajah negeri kita. Kemudian terjadilah agresi militer Belanda I pada tanggal 21 Juni 1947, dilanjutkan agresi militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948 yang mana Belanda berhasil menduduki Yogyakarta yang waktu itu menjadi ibukota Indonesia. Dengan gagah berani Jenderal Sudirman tetap memimpin pasukannya untuk bergerilya melawan penjajah walau beliau sedang sakit. Dengan ditandu, Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya dengan rute Yogyakarta, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, hingga Kediri. Beliau tidak peduli walau dirinya sedang sakit. Demi perjuangan dan kemerdekaan bangsanya, beliau rela ditandu keluar masuk hutan lebih dari 6 bulan lamanya. Hingga akhirnya beliau wafat karena penyakitnya tidak lama setelah penjajah meninggalkan bumi nusantara. Beliau telah tiada, namun namanya tetap hidup hingga sekarang karena jasa dan perjuangannya untuk bangsa kita.Di ujung timur pulau Jawa kita juga mengenal nama Bung Tomo. Putra kelahiran Surabaya (lahir: 3 Oktober 1920; wafat: 7 Oktober 1981) ini tampil lewat siaran radio menggelorakan semangat para pejuang Surabaya ketika menghadapi gempuran tentara Sekutu dari darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945. Kobaran semangat Bung Tomo lewat siaran radio dengan suara yang menggelegar mampu membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur habis-habisan melawan musuh hingga titik darah penghabisan sehingga pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya tersebut tercatat sebagai pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan di kemudian hari peristiwa itu diabadikan sebagai Hari Pahlawan yang kita peringati hingga sekarang. Bung Tomo berhasil membagikan semangatnya yang membara sehingga para pejuang sontak mengangkat senjata membela sang Merah Putih agar tetap berkibar di langit nusantara walau nyawa jadi taruhannya. Semangat yang menggelora berhasil menorehkan peristiwa besar dalam sejarah, mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Entah berapa banyak nyawa yang melayang demi meraih kemerdekaan negeri kita tercinta. Entah berapa banyak kesuma bangsa yang berguguran demi mempertahankan kemerdekaan negeri kita ini. Cucuran keringat, air mata dan darah telah bersimbah disepanjang perjuangan kemerdekaan Indonesia tercinta ini. Sekarang memang kita telah merdeka, namun apakah kita telah meraih kemerdekaan yang sesungguhnya secara hakiki?Mungkin kita harus jujur, sepertinya jawabannya, "Belum". Walau penjajah--baik Inggris, Spanyol, Portugis, Belanda, maupun Jepang--telah lama meninggalkan negeri ini, tapi sepertinya sekarang diri dan juga bangsa kita masih terjajah, bukan oleh bangsa lain tapi oleh diri kita sendiri. Betapa kita lihat kemiskinan dan kebodohan masih meraja lela; budaya korupsi, kolusi dan nepotisme juga masih hidup subur; ekonomi kita juga masih bergantung kepada bangsa lain dengan utang Negara yang luar biasa besarnya; bahkan kita pun harus jujur masih dijajah oleh hawa nafsu yang menyesatkan dan hampir mematikan semangat kita untuk bertumbuh dan bangkit menjadi bangsa yang berjaya dan berakhlak mulia.Mungkin ada baiknya kita merenungi syair lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya" yang digubah oleh W. R. Supratman, yang mana di dalamnya sarat dengan semangat yang membara; semangat persatuan dan kesatuan, semangat nasionalisme, dan semangat untuk bangkit menjadi bangsa yang luhur dan berjaya. "Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semuanya... Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya...!" Sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah kita raih dengan susah payah dan membutuhkan pengorbanan yang tak terhitung banyaknya--dengan taruhan jiwa dan raga kita. Dan juga sudah menjadi tugas kita, sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, untuk mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan di segala bidang menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur, merdeka lahir-bathin, berjaya dan berakhlak mulia.Sebagai penutup, dengan momentum Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63 ini, marilah kita bersatu dan bahu membahu membangun Indonesia sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing agar bangsa ini bisa bangkit menjadi bangsa yang merdeka lahir-bathinnya, sejahtera ekonominya, dan tumbuh menjadi bangsa yang dahsyat, yang disegani bangsa-bangsa di dunia. Merdeka...!!!Sekali merdeka tetap merdeka!Salam merdeka!Agus RiyantoPenulis Motivasi dan Pengembangan Diri, telah menulis buku "Born To Be A Champion". Dapat dihubungi melalui email: agus4ever@gmail.com atau hp. 085227428804.

Tidak ada komentar: